Thursday, February 6, 2014

the awesome Baduy (2014)

7th february 2014

            Baduy, suku yang menetap di daerah Banten ini cukup menarik perhatian saya sejak dulu karena kesederhanaannya yang bisa dikatakan masih primitif dan suasana alam yang sangatlah asri.  Hal dikarenakan amanat dari leluhur mereka yakni:

"uyut nu dititipkeun ka puun (Buyut yang dititipkan kepada puun/ ketua suku)
nagara satelung puluh telu (negara tiga puluh tiga)
bangawan sawidak lima (sungai enam puluh lima)
pancer salawe negara pusat (dua puluh lima negara)
gunung teu meunang dilebur (gunung tak boleh dihancurkan)
lebak teu meunang dirusak (lembah tak boleh dirusak)
larangan teu minang dirempak (larangan tak boleh dilanggar)
buyut teu minang dirobah (buyut tak boleh diubah)
lojor teu minang dipotong (panjang tak boleh dipotong)
pondok teu minang disambung (pendek tak boleh disambung)
nu lain kudu dulainkeun (yang bukan harus ditiadakan)
nu ulah kudu diulahkeun (yang jangan harus dinafikan)
nu enya kudu dienyakeun (yang benar harus dibenarkan)"



      
Senang sekali rasanya pada tanggal 31 Januari hingga 2 Februari saya medapat kesempatan untuk berkunjung ke sana bersama teman-teman dari komunitas Kompas Khatulistiwa. banyaknya bencana di Jakarta dan sekitarnya bahkan di beberapa kota di Indonesia membuat orang tua saya khawatir jika saya tetap mengikuti trip ini bahkan banyak teman-teman saya mengurung niatnya untuk mendaftar trip ini. namun saya yakin, selama kita memilki tujuan baik ke suatu tempat dan selama kita menjaga kelestarian alam maka alam pun juga akan menjaga kita. saya pun berangkat bersama  komunitas Kompas Khatulistiwa tanpa mengenal seorangpun.


          
             pukul 8.00 WIB kami  yang berjumlah 12 orang berangkat dari Stasiun Tanah Abang menuju Stasiun Rangkas Bitung dan saya duduk di samping Fafa dan Fatiyah, mereka menjadi orang pertama yang saya kenal. setelah 3 jam perjalanan dengan kereta, perjalanan di lanjutkan dengan menaiki mobil Elf selama 2 jam menuju Ciboleger. sesampai di Ciboleger, kami istirahat sejenak untuk makan siang dan juga beribadah. orang-orang Baduy pun sudah mulai terlihat. saya terheran-heran melihat banyak orang-orang Baduy berwajah bersih dan berkulit mulus. 


     

      setelah itu kami menyusuri bukit dan menyeberangi sungai untuk menuju rumah penginapan kami. rumah tersebut adalah rumah milik keluarga tour guide kami bernama Mulyono yang akrab disapa Mul, salah satu warga Baduy Luar yang berusia 23 tahun. Karena ini adalah tracking panjang pertama saya  dengan barang bawaan hingga 2 tas berat (maklum jarang tracking panjang) dan di tambah darah rendah, saya pun menjadi peserta yang paling lamban berjalan. heheh.


Mul



oiya, "kok orang Baduy bernama Wahyu Mulyono, seperti nama orang Jawa?" itulah pertanyaan saya yang saya ajukan kepada Mul. ia menjelaskan bahwa dahulu ada seorang photographer bernama Wahyu Mulyono yang sering menginap di rumah keluarga Mul. sehingga ketika Mul lahir, ia pun diberi nama sama persis dengan nama photographer tersebut.






Tentang Baduy
            Setibanya di rumah Mul, sambil beristirahat,  kami pun berkenalan dan bertanya banyak hal tentang Baduy.  Rizky Bolang dan  Mul menjadi narasumber. Mul pun menceritakan mengenai riwayat hidupnya yang inspiratif. ternyata suku Baduy (baik Luar maupun Dalam) dilarang untuk bersekolah formal. mereka diperbolehkan menjadi pintar namun tidak boleh bersekolah formal, mereka harus belajar dari alam. Mul sendiri masih belum benar-benar paham alasan larangan itu karena semua larangan dan aturan adat tidak ada yang tertulis, semua berupa lisan secara turun-temurun. Mul pun nekat untuk mengenyam pendidikan formal dengan kejar paket C dengan perjalanan yang tidaklah mudah. bahkan ketua suku pun kerap kali menegurnya untuk tidak melanjutkan sekolah namun Mul terus bersikeras untuk sekolah. Sekarang ia dan keluarganya merintis perusahaan ternak ayam di luar wilayah Baduy.

Mul juga bercerita bahwa ada mitos tentang keberadaan hutan terlarang yang di dalamnya konon terdapat sebuah arca bernama Arca Domas yang dipercaya sebagai rahasia asal-usul Suku Baduy. Tidak sembarang orang bisa masuk ke dalam hutan itu, bahkan hanya ketua suku saja yang diperbolehkan masuk. 

Sayang sekali kami belum bisa berkunjung dan menginap di Baduy Dalam karena sejak tanggal 2 Februari dan 1 bulan lamanya warga Baduy Dalam sedang melaksanakan upacara sakral dimana pengunjung tidak boleh menginap di sana. Sedangkan waktu tempuh perjalanan dari Baduy Luar menuju Baduy Dalam yakni 4 jam. Bisa dibayangkan jika kita ke sana tanpa menginap.. tepar.

Beberapa jam setelah kami beristirhat, kami berkeliling kampung sekitar menuju sungai dimana terdapat jembatan bambu khas Baduy. walaupun tidak bisa ke Baduy Dalam, kami tetap dapat menjumpai hal-hal menarik di Baduy Luar.

Robin, Ryano, Ipul, Dudung, Dhina, Tika, saya, Fatiyah, Amrina, Fafa

rumah keluarga keturunan kepala suku



rumah adat suku Baduy

lumbung padi
kolam yang dibuat untuk merendam kayu agar kayu dapat lebih kuat dan tahan lama sebagai pondasi rumah. caranya yakni dengan merendam kayu, campur dengan air dan lumpur. 



bertenun menjadi mata pencahrian wanita Baduy 




sore hari kami kembali ke rumah penginapan milik Mul untuk membersihkan diri, mempersiapkan makan malam. karena tidak ada listrik maka seperti inilah susana bersantap malam...
candle light dinner di setiap malam karena tidak ada listrik

setiap seusai makan malam dan dikarenakan tidak adanya listrik maka kegiatan kami adalah saling bercerita dan saling bertukar pikiran tentang pengalaman, sejarah,  budaya, arkeogi, filsafat, politik, mistis, dll. senang rasanya dapat bertemu dengan teman-teman baru yang memiliki pengetahuan luas dan memiliki suatu ketertarikan yang sama.
keesokan pagi, kami berjalan menuju Danau Dangdang sekitar 1 jam dari rumah Mul. Setibanya di kawasan danau, kami beristirahat di sebuah saung di atas bukit, untuk mempersiapkan makan siang berupa nasi liwet ikan teri, ayam bakar, sambal kecap dan pisang bakar. kami pun menyantapnya bersama-sama dengan menggunakan 2 lembar daun pisang. MANTAP.





saya dan Dhina memakai outfit yang sama secara tidak sengaja hahah

setelah cacing-cacing di perut kanyang... kami berakit ria di danau. woohoo. 

mencari kerang danau yang oleh masyarakat sekitar disebut "kijing" untuk menjadi lauk pauk kami.


keesokan harinya, usailah perjalanan kami di tanah Baduy walaupun hanya 3 hari, namun inilah kenangan yang akan selalu teringat di kepala saya dan menjadi kebanggaan tersendiri karena di tempat ini terdapat keharmonisan yang terjalin antar manusia dan alam, makhluk yang diciptakan Tuhan yang memang semesinya saling menjaga.  Walaupun masyarakat Suku Baduy tidak diperbolehkan sekolah formal dan hanya boleh menjadi pintar dengan belajar dari alam namum mereka pantas menjadi contoh bagi orang-orang berpendidikan formal tinggi yang serakah, karena alam mampu membentuk kesadaran tinggi masyarakat Baduy untuk berperilaku baik, tidak egois, berbudi luhur, dan mampu menjaga kelestarian alam sebagai harta warisan nenek moyang mereka. saya harap saya masih bisa menikmati pesona kebudayaan dan keramahan alam di tanah Baduy hingga tua nanti.


XOXO


Baca Juga: 
i put some of these photos on WeHeartIt ---> click here

Wednesday, January 1, 2014

bolang: Bandung & Jogjakarta

2nd January 2013

Sekitar 5 bulan lalu, otak gue sudah mual dengan kelelahan beban mata kuliah, ulangan akhir semester (UAS) bahkan permasalahan nilai IP yang tidak sesuai harapan. Sesuai rencana, selama 3 hari, setelah hari terakhir UAS usai, gue, Nadia Italiana, Encik Natha, Icha berambut panjang, Icha berambut pendek dan Btari
 berlibur ke Bandung dan menginap di kediaman Btari. kepenatan otak pun mulai pudar karena selama 3 hari bersama, kegiatan kami hanya makan, makan, dan makan, tanpa memikirkan pelajaran. Ya Tuhan... betapa bahagianya tidak memikirkan beban perkuliahan, khususnya mata kuliah Kemahiran Berbahasa Prancis yang jahanam itu.










 
hari terakhir di Bandung kami berbelanja barang bekas di Pasar Gede Bage. ada keunggulan dari berbelanja disana dibanding Pasar Senin, Jakarta:
1) para pedagangnya lebih ramah
2) harga barang lebih murah.  well..well...






Beberapa hari kemudian ditengah-tengah semester pendek, abang gue (Mas Nanang) berencana ke Jogja dengan berkendara mobil hanya bersama ibu mertuanya. gue merasa ada kesempatan untuk berlibur hemat (karena tidak perlu membayar biaya akomodasi) sehingga secara mendadak dan atas restu ibu, gue turut ikut ke Jogjabersama mereka. Super sekali! lupa membawa camera SLR, hp pun tetap bisa digunakan.

Pukul 05.00 WIB kami berangkat dari Bekasi. Di jalan tol Cikampek-Jakarta gue melihat macet yang luar biasa panjangnya. 7 kilometer kira-kira. walaupun sempat terkena macet, gue tetap terhibur oleh pesona pemandangan berupa gunung, sungai, sawah, pepohonan, dan hujan. alam selalu bisa menghibur gue dari kepenatan-kepenatan atau keruwetan pikiran. 
  
 
 sekitar 16 jam (jam 08.30 WIB) kami tiba di kota Jogjakarta. pantat pegel bukan main.. mata belum sepenuhnya terbuka eh sudah disuruh membantu abang memarkir mobil. yoweslah ora opopo. 

 keesokan harinya.... bertemu dengan salah seorang sahabat bernama Ita a.k.a Combro Angus yang sudah menjadi warga Jogja selama setahun kuliah. dan mulailah kami terlusuri kota Jogjakarta tercinta selama 4 hari.

 tapi sayangnya terlalu banyak spanduk iklan yang terpampang di jalan-jalan kota yang cukup merusak pemandangan. mungkin jika dibenahi pemerintah, akan terlihat rapi. nah ini gambar dari pemandangan trotoar kota Jogja yang keren..







sore hari, gue dan Ita mendatangi acara Festival Kesenian Jogjakarta 2013 yang diadakan di kompleks Taman Sari. Selain tiket masuknya yang gratis ada hal-hal yang sangat keren berpadu menjadi satu di tempat ini: pameran seni dan pertunjukan musik dilaksanakan di tempat kebudayaan dan sejarah. magnifique banget!



soto ayam 8 ribu (termasuk gorengan dan es teh manis)







 apa saja yang dijual dan dipamerkan disana?

ketika gue memasuki benteng Taman Sari (belakang panggung musik) gue melihat seorang kakek melukis Nyi Roro Kidul di ruangan benteng yang gelap.






 

 keesokan hari, gue, Ita dan ditemani Kak Haris merencakan pergi ke kaki Gunung Merapi. Di tengah perjalanan, di samping salah satu universitas di Jogja, kami berhenti sejenak. Kak Haris menunjukkan sesuatu hal keren; 2 candi mini dan 1 prasasti. Benda-benda tersebut ditemukkan  secara tidak sengaja saat pembangunan perpustakaan universitas.




tibalah kami di kaki Gunung Merapi  :D



    " sekolah yang terkena "wedus gembel 


*Kak Haris dan Ita 



malam terakhir di kota Jogja, gue lewatkan bersama Ita dan Kak Haris di acara Festival Kesenian Jogja 2013, di alun-alun selatan Keraton. setibanya di sana sudah banyak orang terutama anak muda, ada yang duduk-duduk di pinggir jalan pula. salah satunya gue, karena capek berdiri, yang siap menyaksikan pertunjukkan yang diantaranya adalah penampilan beberapa Dj asal Jogja. ada Dj tapi becak-becak dan sepeda ontel terus hilir mudik. suasana kesederhanaan kota Jogja, perpaduan antara seni, budaya, dan keramahan warga Jogja yang bikin gue betah dan selalu ingin balik ke kota ini ketika masa liburan tiba.



Ita si Combro Angus

hari terakhir di Jogja, Ita menemani gue ke Keraton Jogja dan 2 musium di sekitarnya, yakni Museum Kereta Kencana Kraton Yogyakarta dan  musium Sonobudoyo.




Keraton 











makan siang di Mirota Batik
wangi-wangian.. khas banget




perjalanan di Jogja berakhir tapi rasa kangen gak bisa hilang..