Wednesday, January 6, 2016

My Best Moments in 2015

7-9 November 2015
 Pelantikan Anggota Mapala Universitas Indonesia Tahun 2015

Sejak kecil saya suka dengan kegiatan outdoor. Ketika saya duduk di Sekolah Menengah Atas, ada kabar-kabar tidak sedap tentang organisasi pecinta alam yang hendak saya ikuti dan hal ini membuat saya mengurungkan niat untuk medaftarkan diri dalam organisasi pecinta alam. Tidak disangka, saat saya menempuh pendidikan di universitas dan memasuki semester 6, teman-teman "Mecin" saya yakni Erika, Karina dan Fiqih mengajak saya untuk mendaftar organisasi pecinta alam di kampus yakni Mapala UI. Senang sekali melihat antusias mereka dalam pendaftaran. "Apapun yang terjadi, setidaknya gue ada temen yang sama2 mager", itu yang ada dipikiran saya. Bayangkan,berjalan dari fakultas menuju ke Stasiun UI saja kami sering kali mengeluh. Tingkat kemalasan kami untuk bergerak tergolong tinggi.

Jumlah pendaftar yakni 122 mahasiswa aktif UI. Namun tahap demi tahap, ada yang gugur maupun mengundurkan diri. Jujur saja, ini adalah organisasi yang banyak menyita waktu: waktu kuliah maupun waktu bersama keluarga. Apalagi, semester 6 bagi saya adalah semester terberat. Hal ini disebabkan oleh adanya tugas mini skripsi pengkajian kesusastraan Prancis, mini jurnal penelitian sosial, Kemahiran berbahasa Prancis 6, bertanggung jawab atas dekorasi untuk acara tahunan jurusan yakni FestiFrance 2015, dan menjadi kepala redaksi buletin jurusan yakni Bonjour!. Ditambah kegiatan-kegiatan BKP Mapala UI berupa berbagai materi dan praktek. Di sisi lain, si ibu yang terus melarang saya mengikuti organisasi pecinta alam apalagi naik gunung. huftMengikuti rangkaian BKP Mapala UI di semester 6 bagaikan menggali kubur saya sendiri. 

Sempat terpikir untuk resign dari kegiatan organisasi ini, namun beberapa teman terus menyemangati saya untuk lanjut. Tak disangka pula kini saya dan teman-teman Caang (Calon Anggota) telah menyelesaikan semua tahap 1, 2, dan 3 selama sembilan bulan lamanya. Banyak pelajaran dan pengalaman yang saya dapat selama mengikuti tahap demi tahap BKP Mapala UI 2015. Selain bertemu dengan orang-orang yang luar biasa, dalam BKP ini saya bisa mewujudkan beberapa impian saya. Yang pertama adalah naik gunung. Kedua adalan pameran fotografi yang benar-benar diluar dugaan saya. Ketiga adalah pelantikan anggota Mapala UI.


2 November 2015, tegang dan was-was saya rasakan pada malam itu, malam kelulusan kami di tahap 3. Saya pasrah dan hanya bisa berdoa semoga saya siap menerima hasilnya: dinyatakan lulus atau tidak lulus. Dari 51 calon anggota, hanya 48 yang lulus, termasuk saya. Perasaan terharu dan sedih bercampur menjadi satu.Terharu karena saya dinyatakan lulus, namun sedih karena beberapa kawan tidak diluluskan.

Malam kelulusan itu kami langsung dibagi menjadi beberapa kelompok jalur untuk menuju tempat pelantikan kami yang pertama yakni Lembah Mandalawangi. Tempat favorit senior kami, Soe Hok Gie. Jalur Cisaat, katanya istimewa, namun ternyata hanya nongkrong di tenda dan mempersiapkan upacara pelantikan resmi si Situ Gunung. Dengan kata lain, kami tidak akan ke Mandalawangi. Usaha saya untuk pindah kelompok jalur lain membuahkan hasil beberapa hari kemudian, saya dipindahkan ke kelompok jalur Citeko. Meskipun "sunyi senyap", tapi yasudahlah tak masalah.

 
ini camp pertama kelompok kami yakni di perbatasa hutan, Malas mengeluarkan tenda, bangunan yang terlihat yang pernah menjadi lokasi meninggalnya 3 orang dalam waktu berbeda  ini pun kami jadikan camp

teman perjalanan 








setelah upacara usai, kami bermain bola dan mengikuti lomba-lomba ala 17 Agutusan.


















Kami turun dari Mandalawangi menuju Gunung Masigit, lalu turun menuju Situ Gunung. 8 jam perjalanan dengan rasa lapar, lelah, hujan, pegal, ditambah rasa sakit gigi graham kiri yang hendak tumbuh bercampur jadi satu dan menjadi keluhan-keluhan yang terus keluar dari mulut saya. Setibanya di Situ Gunung, kami beristirahat beberapa jam. Pukul 21.00 WIB kami berjalan kaki lagi menuju Tanakita untuk upacara pelantikan kami dihadapan toku (senior) dan orang tua yang dilaksanakan pada pukul 00.00 WIB. Perjalanan menuju lokasi upacara dengan menuruni bukit membuat kami para anggota perempuan yang akan terlantik saling berpegangan tangan dan bahu untuk menopang satu sama lain sambil menahan efek rasa sakit kaki dan sambil berteriak kesakitan. Lucu memang. 

muka kumel, kedua tangan penuh luka dan goresan duri, bau badan dan ketek berbau kecut


Oleh-oleh dari Pangrango: luka-luka terores duri-duri  di sekujur tangan. hahahah. Perih, apalagi saat terkena sambal.




7-9 Oktober 2015 :                               Acara ini


Momen terindah saya yang kedua di tahun 2015 adalah pameran yang terdiri dari 3 acara ini. Ini merupakan output yang angkatan kami persembahkan untuk tahap 3 rangkaian BKP Mapala UI 2015. Senang sekali saya bisa berpartisipasi sebagai tim dokumentasi perjalanan, melihat beberapa foto hasil jepretan saya terpajang, mendapat komentar dari fotografer profesional Bang Makarios Soekojo, serta berjaga di pameran untuk menjelaskan foto-foto dalam pameran kepada para pengunjung. 



Agustus 2015
Perayaan Ulang Tahun Ke-21
Tepat di tanggal kelahiran saya, 6 Agustus, saya memulai perjalanan dari Jogja, Dieng, lalu Argopuro (Jawa Timur). Senang bisa melakukan perjalanan solois ke Jogja, lagi. Dan untuk pertama kalinya menyaksikan milky way hingga terharu. Peristiwa ini terjadi saat saya dan Andini naik ojeg menuju Desa Baderan, basecamp Argopuro. Berikut kisahnya --> click here 

foto diambil saat di Cikasur, kawasan Gunung Argopuro


Juli dan Desember 2015 


Buletin Bonjour! dan Majalah Jejak
 Terbitnya buletin jurusan yakni Bonjour!  (klik untuk mengunduh) dan majalah Mapala UI yakni Jejak  (klik untuk mengunduh)





























15-16 Oktober 2015 
FestiFrance 2015: 
Paris après minuit est magique” 

Best moment saya keempat yakni acara FestiFrance 2015. Dalam acara ini saya mengemban tugas sebagai penanggung jawab dekorasi.Dekorasi dibuat selama dua bulan, dipakai hanya dua hari, dan dihancurkan dalam waktu dua jam. Hmmm. Saya mengucapkan terima kasih banyak untuk semua yang ikut membantu merealiasasikan konsep dekorasi ini. Terutama segenap tim dekor (dedek Lidia, Manda, Betha, Asri, Eliyan, Fairuz, Alisya, Citra, Ajeng),  Arvi sang PO, tim perlengkapan (Kocong, Joya, Alvin), Zara, Fitria, Clara, Gabby, dan semua yang membantu walaupun hanya 5 menit. Merci, merci, merci. 



















12 November 2015   
Photoshoot 
Program Studi Prancis UI  2012

semoga masuk bareng, keluar bareng ya cuy :")




puts

bersama Mecin lovers


 
Thank God for this incredible year. i cant wait for another journeys and experiences ahead.

Monday, September 28, 2015

Liburan Semester 7: Jogja - Dieng - Argopuro

1 September 2015

Liburan yang dimulai dari pertengahan Juni hingga akhir Agustus tahun ini menjadi liburan saya yang paling produktif.


Arung Jeram
Awal Juni,saya dan teman-teman Caang berlatih arung jeram dan SAR (Save And Rescue) di salah satu danau Universitas Indonesia, di bawah jembatan Teksas (Teknik-Sastra). Kami berenang bersama siput, bangkai ikan, sampah, dan butiran-butiran tak bernama. Bagaimanapun kotornya, ini adalah pengalaman baru dan seru bagi saya pribadi




3 kali berlatih arung jeram di danau yang pernah ditemukan mayat ini, kami pun kemudian mengarung di Sungai Cisadane. Kehadiran sampah dan limbah sangat merusak keindahan perpaduan antara arsitektur jembatan dan alam sekitar. Sayang, saya tak sempat mengabadikan peristiwa ini dengan kamera.


Meskipun tomcat menyerang
meskipun ada hajat manusia mengambang
meskipun ada orang gila telanjang
meskipun kulit menjadi belang
Sungai Cisadane, kami mampu menerjang



Buletin Bonjour! edisi Juli 2015
Ini adalah projek saya dan teman-teman IKABSIS UI (Ikatan Keluarga Besar Mahasiswa Prancis Universitas Indonesia).  Buletin ini tidak hanya tersedia dalam bentuk cetak, namun juga dalam versi online di sini.




Bastille Day
Pada tanggal 14 Juli, saya dan orang tua menghadiri pesta rakyat Prancis di Indonesia untuk merayakan hari nasional negara mereka. Tiap tahun menghadiri acara ini, saya selalu melakukan ritual: makan dan minum sampai begah. Sulit rasanya untuk melangkahkan kaki meninggalkan tempat ini karena berkat acara ini saya bisa memperbaiki gizi tubuh. 



Jogjakarta-Dieng
Bertepatan dengan hari ulang tahun saya yang ke... (ah sudahlah, sudah tua), saya mengunjungi kota Jogja tercinta untuk melakukan perjalanan solois atau seorang diri ke berbagai tempat indah di Jogja. Sejak ulang tahun saya tahun lalu, saya mulai sering melakukan perjalanan solois namun hanya ke JABODETABEK terutama Bogor. Hujan Bogor, kenangan yang tercipta, keasrian Kebun Raya Bogor, dan banyaknya arsitektur bangunan-bangunan Belanda, selalu menggoda saya untuk terus kembali mengunjungi kota ini ketika saya merasa penat akan tugas kuliah.
                       

                       


                       

                     


                          






Sendra tari Ramayana di depan Candi Prambanan
                           


                           


                           

                           


Goa Pindul
Terima kasih untuk Haris dan Danuta yang sempat menemai perjalanan saya ke Dieng dan terima kasih untuk Dinda yang telah mengajak saya nebeng liburan sehari bersama keluarganya di Jogja hehehe. 













Argopuro, Jawa Timur


salah satu pengunjung setia Sungai Kolbu, burung merak.
Suara burung merak terdengar nyaring seantero Sabana Cikasur. Sering kali mereka menampakkan dirinya di tepi Sungai Kolbu. Sungai kecil yang dikelilingi oleh tanaman selada air dan menjadi sumber air utama bagi satwa di sabana ini seakan menjadi panggung bagi berbagai aves memamerkan dirinya. Dua kali saya dikejutkan oleh kehadiran merak jantan yang berlenggak-lenggok cantik di atas reruntuhan bangunan peninggalan kolonial Belanda. Dua meter jaraknya dari tempat saya berdiri. Ketakjuban akan hewan pujaan Cikasur yang terbang anggun tepat di depan mata membuat saya bengong dan lupa mengabadikannya pada kamera yang sedang saya genggam. Seakan tak mau kalah dari merak, burung elang juga turut memamerkan dirinya dengan terbang memutar di langit Cikasur sambil bersenandung. Lutung-lutung juga beraksi dengan bersahut-sahutan sambil melompat dari satu pohon ke pohon lain. Sedangkan di sisi timur Cikasur, di lahan bekas landasan pesawat zaman kolonial Belanda kami menyaksikan sekawanan babi hutan berlari masuk ke dalam rimbunnya hutan.


Wisata unik ini saya dan kawan-kawan nikmati pada bulan Agustus 2015 di Cikasur, salah satu sabana yang ada di kawasan Dataran Tinggi Hyang, Jawa Timur. Tidak hanya pesona alamnya berupa sabana di ketinggian 2.315 mdpl dan cagar alam Sungai Kolbu, Cikasur juga kaya akan flora, fauna serta situs bersejarah. Untuk mencapai sabana indah ini, kami memulainya dengan perjalanan darat pada tanggal 18 Agustus 2015 dari Jakarta menuju basecamp Argopuro di Desa Baderan, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur selama 17 jam. Penantian kami selama satu jam pada truk yang lewat di Alun-alun Besuki untuk memberikan kami tumpangan pada pukul 10 malam tidak membuahkan hasil. Untunglah ada ojeg sekitar yang menjadi alternatif pengantar kami menuju Desa Baderan dengan biaya Rp 35.000,00 / motor. Pegal bukan main saya rasakan selama satu jam menaiki ojeg yang adalah sebuah motor namun kami tumpangi bertiga, yakni pengemudi, saya, dan Andini. Ditambah jalan rusak, berbatu dan jalur menanjak bukit. Pegal dan terus tergunjang. Namun, selama perjalanan berkendara yang melelahkan ini, saya terbuai oleh pemandangan langit malam berupa gugusan bintang, sebuah karya Tuhan yang biasanya saya lihat dari layar laptop. 

Setelah menempuh 17 jam berkendara dari Jakarta, tibalah kami di basecamp Baderan berupa kantor KSDA Baderan. Di sana kami disambut oleh tiga mahasiswa MAHAPENA (Mahasiswa Pecinta Alam Fakultas Ekonomi Universitas Jember) yakni Alfath, Aziz, dan Abid yang akan menemani perjalanan kami menuju Cikasur. Keesokan pagi pukul 07.00 WIB, kami berdelapan bergegas memulai pendakian.

       Untuk mencapai Cikasur dari basecamp Baderan, kami terlebih dahulu harus menyusuri pemukian warga, perkebunan warga, dan hutan produksi warga dengan jalan bebatuan yang oleh warga setempat disebut "makadam". “Kapan kita masuk wilayah hutan? berjam-jam jalan kok masih perkebunan warga?”, gerutu dan keheranan saya akan wilayah perkebunan dan hutan produksi warga hingga di ketinggian 1.200 mdpl. Itu berarti semakin tergerusnya hutan lindung di wilayah ini. Namun lagi-lagi sapaan dan senyuman hangat dari warga lokal yang kami jumpai membuat saya kembali tersenyum lebar meskipun pegal sudah terasa di punggung yang menahan berat carrier. Ada warga yang sedang bercengkerama dengan tetangga dan anak-anak mereka di depan rumah-rumah yang terbuat dari kayu, ada yang sedang berladang, memandikan kuda, ada pula yang memikul rumput untuk pakan ternak.

Setelah melintasi "makadam", kami melewati hutan lindung. Jalan yang kami lewati berupa tanah berdebu. Jalanan macam inilah yang membuat mata kami pedih karena berdebu dan ingus kami bukan lagi berwarna bening melainkan hitam. Maka, ingat! jangan lupa memakai buff, masker atau selendang untuk menutup hidung dan mulut bila ingin mendaki Dataran Tinggi Hyang. Jalan berupa tanah berdebu ini diakibatkan oleh sepeda motor yang berlalu lalang menuju Cikasur. Memang ada dua alternatif untuk menuju Cikasur. Pertama, adalah jalan kaki. Kedua, naik ojeg dengan biaya Rp 250.000,00 per sepeda motor. Namun apabila polisi hutan mendapati ada ojeg tiba di Cikasur, maka pengemudinya akan ditangkap karena suara bising yang ditimbulkan sepeda motor bisa mengusik satwa-satwa yang ada. 

Memasuki kawasan hutan lindung, jalur pendakian berupa tanah berdebu. Kami berjalan sambil menjaga jarak 2 meter satu sama lain. Jalanan macam inilah yang membuat mata kami pedih dan ingus kami bukan lagi berwarna bening melainkan hitam, meskipun buff dan masker sebagai pelindung hidung dan mulut sudah kami kenakan. Jalan berupa tanah berdebu diakibatkan oleh sepeda motor yang berlalu lalang menuju Cikasur. Memang ada dua alternatif untuk menuju Cikasur. Pertama, adalah jalan kaki. Kedua, naik ojeg dengan biaya Rp 250.000,00 per sepeda motor. Namun apabila polisi hutan mendapati ada ojeg tiba di Cikasur, maka pengemudinya akan ditangkap karena suara bising yang ditimbulkan sepeda motor dapat mengusik satwa-satwa sekitar. 

pemandangan yang disuguhkan oleh lokasi kami berkemah di jalur antara Mata Air I menuju Mata Air II. 



Satu persatu bukit, tanjakan, turunan dan sabana kami lewati. Matahari yang terus menampakkan dirinya membuat keringat kami bercucuran dan letih semakin terasa. Namun kami terus berharap segera tiba di Cikasur di hari kedua pendakian. Sudah 17 jam kami mendaki. “Itu Sungai Kolbu! Itu Sungai Kolbu!” teriak Ari yang berjalan paling depan. Sungai yang menjadi penanda bahwa kami tiba di Cikasur. Mendengar itu saya dan kawan-kawan segera berlari menuju sungai. Seperti menemukan harta karun, dengan gaya berlari riang, kami segera turun menghampiri sungai itu untuk membasuh diri dan minum sepuasnya. Lelah dan pegal serasa hilang seketika. 




Sebuah pohon besar nan rindang berdiri kokoh di tengah sabana yang gersang. Cocok sebagai lokasi kami mendirikan tenda dan untuk keperluan dokumentasi. Setelah mendirikan tenda dan beristirahat sejenak, kami mampir ke tenda-tenda yang didirikan di atas reruntuhan bangunan peninggalan kolonial Belanda untuk bertegur sapa. Itulah tenda-tenda hunian seorang polisi hutan honerer bernama Pak Samaji, tenda seorang polisi hutan bernama Pak Deni, tenda-tenda tim peneliti debit air, dan tenda Mas Wawan peneliti Lutung. ‘’Nanti malam akan dingin sekali. Apalagi ini sedang musim kemarau. Kalian mampir saja ke sini karena kami membuat api unggun’’, ajak Pak Samaji dengan logat khas Jawa Timur. Selama kami berbincang-bincang, kami juga mendapat nyanyian sambutan dari burung elang yang terbang memutar di langit, burung merak dan kemunculannya di bukit seberang. Saya terhibur oleh nuansa yang tercipta berupa keramahan pendaki lain dan sambutan dari satwa Cikasur. 

‘’Perburuan liar sering terjadi di Cikasur. Hewan-hewan yang diburu biasanya burung-burung. Nantinya burung-burung hasil buruan itu akan diperjualbelikan di pasar,” jelas Mas Iwan. Ketika topik ini kami perbincangkan, tiba-tiba Pak Samaji dan Pak Deni berlari ke arah timur Cikasur sambil berteriak “berhenti, Pak”, “sini mampir sebentar, “Pak berhenti”. Kami terkejut akan hal ini dan bertanya-tanya apa yang sedang terjadi. Mas Iwan berkata bahwa ada dua orang pria membawa karung besar dan berlari ke arah timur Cikasur menuju hutan. Belasan menit kemudian Pak Deni dan Pak Samaji kembali dengan wajah kecewa. “Duh, kami tidak berhasil mengejarnya”, ujar Pak Samaji. Kedua polisi hutan ini menuturkan bahwa tidak hanya fauna yang sering diambil warga secara ilegal, tetapi juga flora. Tanaman bernama lerean berupa umbi, letan-letan yang diambil kulitnya, polasari yang diambil akarnya, susuh angin yang tumbuh di ujung batang pohon, dan kayu manis yang biasa digunakan untuk sayur, sering diburu warga. Tanaman-tanaman berkhasiat ini biasanya diambil di kawasan hutan lindung dan dijual di pasar sebagai bahan ramuan atau jamu. Kesulitan mengambil tanaman bernama susuh angin sering menimbulkan penebangan liar karena banyak warga yang mengambilnya dengan cara memotong batang pohon, bukan memanjat pohon hingga ke ujung batangnya. Meskipun memotong batang pohon merupakan cara yang praktis untuk mengambil susuh angin, namun hal ini sebetulnya menimbulkan kerugian bagi warga karena jika semakin banyak batang pohon yang dipotong maka warga semakin sulit menemukan susuh angin karena pertumbuhannya lama.


Setelah mendirikan tenda dan beristirahat sejenak, kami mampir ke tenda-tenda yang didirikan di atas reruntuhan bangunan Belanda untuk bertegur sapa. Itulah tenda-tenda hunian Pak Samaji (polisi hutan honerer), tenda-tenda tim peneliti debit air, dan tenda Mas Wawan peneliti Lutung. Kami tidak melewatkan kesempatan untuk banyak bertanya kepada mereka mengenai sejarah, cerita mistis, flora dan fauna di Cikasur serta Argopuro. Sambutan hangat dari burung elang yang terbang memutar di langit, suara-suara burung merak, dan kemunculan merak di bukit seberang membuat letih yang saya rasa samar-samar hilang. Saya terhibur oleh nuansa yang tercipta: keramahan pendaki lain dan sambutan dari satwa Cikasur. 

                 
             

Bulan mulai menampakkan dirinya pukul 13.00 WIB. Sore hari, kabut yang menyelimuti sabana ini membuat saya segera mengenakan dua lapis jaket, selendang, dua lapis kaos kaki panjang, dan dua lapis sarung tangan. Malam hari, hawa semakin menusuk tulang. Apa yang kami kenakan belum cukup melindungi tubuh ini dari hawa dingin Cikasur. Kami sangat bersyukur, Pak Samaji menawarkan api unggun yang dibuat oleh para porter di dekat tenda mereka. Oleh karena itu setiap malam kami berkunjung ke reruntuhan bangunan Belanda untuk menikmati kehangatan api unggun besar. Kecepatan para porter dalam membuat api unggun membuat saya menjuluki mereka sebagai "dewa api". Tidak hanya api unggun, kami juga disuguhi minuman hangat dan makanan ringan. Sarapan, makan siang, makan malam, di sini saja bersama kami. Kami punya banyak makanan. Jadi kalian gak usah masak”, ajakan Pak Samaji yang membuat kami bergembira ria.  
menghangatkan diri dengan api unggun buatan "dewa api"

di atas kami
mengahangtkan diri di atas reruntuhan bangunan Belanda dan di sekeliling api unggun  
        
mengambil air dari Sungai Kolbu

Semburat matahari yang perlahan muncul dari balik bukit bak penyemangat kami memulai aktifitas. Memasak lalu berburu foto flora dan fauna Cikasur yang akan kami ajukan dalam pameran fotografi "Meraih Asa di Tanah Para Dewa" dan video dokumenter "Hyang Menuju Taman Nasional". Beberapa jenis aves, lutung, dan flora Cikasur telah berhasil kami abadikan dalam kamera. Maka pada hari ketiga kami mengerahkan waktu untuk berburu foto di timur Cikasur. Lokasi ini dikabarkan oleh Pak Deni menjadi lokasi kemunculan penghuni Cikasur lainnya yakni babi hutan, macan kumbang dan rusa.

Kami duduk di antara semak-semak di atas lahan bekas landasan pesawat zaman kolonial Belanda sambil menunggu kehadiran satwa. Dari kejauhan terlihat sekawanan babi hutan berlari dari sabana menuju lebatnya hutan seakan takut diburu. Babi-babi berukuran besar menggiring babi-babi yang berukuran lebih kecil. Sungguh menggemaskan. Beberapa saat kemudian suasana menjadi sunyi kembali, angin terus berhembus sepoi-sepoi, dan kabut mulai turut. Terbayang dalam benak saya Cikasur zaman penjajahan dahulu menurut buku The Ecology of Java and Bali tahun 1996. Kecantikannya pasti melebihi saat ini: bangunan bergaya arsitektur Eropa sebagai tempat penangkaran rusa berdiri di dekat Sungai Kolbu, perkebunan kentang dan landasasan pesawat membentang di timur Cikasur, berbagai jenis bunga bermekaran, dan masih banyaknya satwa yang berkeliaran. Namun membayangkan beralih fungsinya bangunan penangkaran rusa menjadi markas tentara, peristiwa pertikaian orang-orang Belanda dengan orang-orang Jepang hingga peristiwa pembunuhan masal buruh-buruh Indonesia yang dilakukan oleh kaum penjajah di tempat ini, membuat saya ngeri.  Ya, Sabana Cikasur menjadi saksi bisu sejarah kelam bangsa Indonesia. 
                                 

merebahkan diri di atas kuburan masal buruh Indonesia zaman penjajahan Belanda (catatan: saya baru mengetahui info ini setelah turun dari Cikasur).
Salah satu bulu burung. Dilihat dari ukurannya yang besar, bulu ini adalah bulu burung  elang.
           





     Dari cerita dan foto-foto yang saya sajikan memang memperlihatkan keindahan dataran tinggi yang dikabarkan Pak Samaji sepi pengunjung. Namun, sepi dari pengunjung bukan berarti sepi dari sampah. Sampah berupa tisu basah, tisu kering, pembalut, puntung rokok, botol air mineral, dan sampah sisa-sisa kemasan dapat ditemukan pada dataran landai dari jalur Baderan hingga Cikasur. Ada pula ukiran nama mereka pada batang pohon dan sampah yang disangkutkan pada batang pohon. Tidak hanya alam yang dirusak oleh para wisatawan, reruntuhan bangunan bersejarah bekas peninggalan kolonial Belanda di Cikasur juga menjadi korban. Di tembok reruntuhan bangunan terukir nama para perusak dan nama-nama kelompok perusak yang mengatasnamakan “pencinta alam”. Para polisi hutan yang secara berkala berjaga di Cikasur turut melukainya dengan api unggun yang dinyalakan di pojok reruntuhan bangunan. Akibatnya, bangunan ini semakin terlihat tidak terawat dengan tambahan noda hitam bekas api unggun, rumput liar, dan coretan-coretan.


rumput-rumput liar yang menutupi reruntuhan bangunan bekas peninggalan Belanda



Api unggun yang dibuat porter dari kepolisian hutan di reruntuhan bangunan Belanda 

coret-coretan yang dibuat tangan-tangan jahil
Lagi-lagi kami dibangunkan oleh suara merdu burung-burung. Pagi itu kami harus siap memanggul ransel-ransel enteng kami untuk kembali ke Desa Baderan, meskipun kami belum berhasil melihat macan kumbang dan rusa. Pegal dan nyeri terasa di kaki terutama saat melewati jalan bebatuan. Ketika senja tiba, kami pun telah tiba di Desa Baderan setelah menempuh 10 jam perjalanan. Sebuah warung kami serbu untuk memesan mie instan dan teh hangat. Kami menikmati santapan sederhana ini sambil disuguhi cerita mengenai Reog Ponorogo yang dituturkan oleh pemilik warung, pria setengah baya, pecinta seni tradisional. Tawaran menggiurkan menginap semalam di mushola depan rumahnya kami terima dengan senang hati.  

Adzan yang berkumandang menjadi alarm pagi kami kali ini. Dalam perjalanan kami menuju Alun-alun Besuki, di atas mobil bak pengangut sayur-mayur dan duduk di antara warga Baderan yang hendak menuju pasar, kami mengagumi Dataran Tinggi Hyang dari kejauhan. Kami puas akan pengalaman berharga di sana yang telah tersimpan dalam memori kamera. Harapan kami kepada para pengurus kawasan Dataran Tinggi Hyang terutama petugas-petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jember, Situbondo, Bondowoso, dan Probolinggo untuk saling bekerjasama meningkatkan perlindungan tidak hanya pada alam, melainkan juga pada situs bersejarah yang ada di Dataran Tinggi Hyang. Sebaiknya di sekitar situs bersejarah dipasang papan berisikan informasi mengenai situs tersebut beserta sejarahnya. Selain menambah wawasan wisatawan, secara tidak langsung informasi yang terpasang juga mengajak wisatawan untuk turut merawatnya. Denda maupun sanksi bagi pelaku tindakan destruktif di kawasan ini seperti meninggalkan sampah, merusak situs bersejarah, merusak pohon, juga harus dipertegasSemoga Tuhan Semesta Alam selalu memberkati dataran elok ini dan menjauhkannya dari tangan-tangan perusak. 



                                                


                                                 
Hari keempat kami di Cikasur, hanya ada saya, Andi, Dewa, Ari dan Akbar. Kawan-kawan dari Mahapena, para polisi hutan, Mas Iwan peneliti Lutung dan para porternya meninggalkan kami berlima dan melanjutkan perjalanan ke Cemara Lima. Sepi, hanya ada kami berlima dan hewan-hewan Cikasur. Bahkan kami semakin sering melihat merak pada jarak dekat. Keesokan pagi tanggal 24 Agustus, kami kembali ke Baderan dengan perasaan puas akan segala ciptaan Tuhan di tanah Cikasur. Pengalaman berharga ini telah tersimpan dalam memori kamera kami. Harapan kami semoga para pendaki yang berpetualang di kawasan ini adalah para pecinta alam, bukan perusak alam.  


Keseruan perjalanan ini disponsori oleh:
-  Tuhan
- teman-teman MAHAPENA (Mahasiswa Pecinta Alam Fakultas Ekonomi Universitas Jember) yang telah menyediakan tempat kami bernaung selama beberapa hari setelah kami turun gunung,  menyediakan makanan bagi kami dengan porsi tukang gali sumur, menjadi narasumber cerita mistis Argopuro, dan mengantar kami berkeliling Jember
- para polisi hutan dari BKSDA Jember (Pak Samaji, Pak Denny) yang memberikan tumpangan api unggun, memberi pasokan makanan kami, menjadi narasumber kami mengenai Argopuro
- para "dewa api" atau dikenal sebagai para porter karena selalu berhasil membuat api unggun besar, menyediakan kami minuman hangat dan makanan ringan tiap kali kami mampir ke tenda Pak Samaji, dan Pak Bahari yang sempat mengantar kami berkeliling untuk berburu foto flora dan fauna Cikasur
- Kantin Universitas Jember yang menjual makanan-makanan yang mampu mengeyangkan cacing-cacing di perut dengan harga fantastis (Rp 5.000-7.000)
- para calon anggota BKP Mapala UI 2015 dan Andini atas keseruannya.  Kalian luar biasa!
- pemilik mushola Desa Baderan yang menginzinkan kami tidur semalam di mushola miliknya
- Mas Iwan (peneliti Lutung) sebagai narasumber
- teman-teman dari MAPENSA (Mahasiswa Pecinta Alam Fakultas Pertanian Universitas Jember).